Perjalanan hidup Marase sangatlah memilukan, pernah suatu kali Marase pergi merantau ke kota lain dimana kota ini dijuluki kota kerang. Kota ini indentik dengan kehidupan laut, Marase berada di kota ini kurang lebih setahun lamanya. Yang namanya dekat laut ya... Tentunya akan kesulitan dengan air minum yang mana air minum pada umumnya penduduk setempat yaitu dengan menampung air hujan jadi semuanya berharap dari air hujan baik untuk minum dan memasak.
Bagi penduduk yang berkecukupan ya... Ia dapat membuatkan sumur bor yang cukup memakan biaya besar, pembuat sumur bor yang cukup berpengalaman karena sumur yang akan digali cukup dalam. Bila hujan tak datang maka Marase hanyalah minum air yang masih tersisa ditong penampungan air yang penuh dengan larfa nyamuk atau jentik-jentik yang masih berkeriapan di air, itu tak jadi masalah buat Marase. Pabila mau mandi tinggal jebur aja kelaut selesai deh. Makan dan lauk pauk dikota ini tak ada masalah tingal pilih mau makan ikan apa aja ada hehehhe..
Laut dan anginnya enak sekali menerpa kulit bila sudah senja menjelang. Dan pemandangan indah yang disuguhkan cukup menawan hati bila mentari mulai turun keufuk barat.
Didalam kesesakan ada jalan keluar dan dibalik penderitaan ada kebahagiaan {Marase}.